Manajemem Berbasis Sekolah adalah istilah terjemahan dari School-Based Management yang
merupakan sebuah kebijakan didalam dunia pendidikan dengan memberikan
kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengelola sumber daya yang tersedia.
Tujuan utama dibentuknya Manajemen Berbasis Sekolah adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan
nasional.
A. Strategi Pelaksanaan MBS
Dalam mengimplementasikan desentralisasi pendidikan ini
diperlukan strategi-strategi tertentu, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Membuat Kurikulum yang Pro Kepada Siswa
Kurikulum
layaknya sebuah momok besar bagi siswa-siswi dinegeri ini, hal ini karena mereka
tidak merasakan kesesuaian dengan kurikulum yang ada saat ini. Walaupun kurikum
seringkali berubah (diganti) akan tetapi rasanya masih selalu kurang sesuai.
Sudah seharusnya pihak yang berwenang merubah kurikulum yang disesuaikan dengan
minat dan bakat para peserta didik.
2.
Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang
Menyenangkan
Untuk
sebagian peserta didik, sekolah merupakan tempat yang tidak menyenangkan. Untuk
mengantisipasi hal tersebut diharapkan sekolah bisa menciptakan proses belajar
mengajar disekolah yang menyenangkan. Disinilah peran penting para pendidik
yang seharusnya bisa memahami karakteristik para peserta didiknya sehingga
suasana dikelas menjadi lebih nyaman.
3.
Meningkatkan Mutu Para Pendidik.
Program
Manajemen Berbasis Sekolah akan berjalan baik dengan peran aktif dari para
pendidik yang bermutu. Para pendidik yang bermutu diharapkan bisa bisa memanage sumber daya yang tersedia disekolahnya
seoptimal mungkin. Upaya yang umumnya dilakukan pemerintah (Depdikbud) untuk
meningkatkan mutu para pendidik adalah dengan mengadakan program pelatihan.
4.
Dukungan Tenaga Kependidikan di Sekolah.
Stakeholder
didalam sekolah lainnya yang memiliki peran penting dalam desentralisasi
pendidikan adalah tenaga kependidikan di Sekolah. Tenaga kependidikan yang dimaksud
adalah anggota masyarakat (selain tenaga pendidik) yang mengabdikan dirinya
untuk pendidikan disekolah. Dukungan tenaga kependidkan disekolah sangat
penting guna menciptakan kemandirian disekolah.
5.
Keaktifan Peserta Didik.
Keaktifan
peserta didik disekolah sangat diperlukan guna menciptakan School-Based
Management yang baik.
Meskipun peserta didik bukan pengambil kebijakan disekolah, tapi peserta didik
bisa memberikan saran dan masukan agar tercipta kemandirian disekolah sehingga
sekolah bisa mengalokasikan sumber daya yang tersedia secara optimal.
6.
Peran Aktif Orang Tua Peserta Didik.
Orang
tua siswa memiliki peran penting didalam penyelenggaraan program Manajemen
Berbasis Sekolah ini. Orang tua peserta didik juga diharapkan turut mengawasi perilaku
anak-anaknya dan tidak sepenuhnya membebankan kepada pihak sekolah. Orang tua
peserta didik juga diharapkan aktif dalam memberikan pandangan-pandangannya
guna memajukan sekolah.
7.
Sarana Prasarana Pendukung yang Memadai.
Untuk
memajukan mutu pendidikan disekolah, sarana dan prasarana pendukung sangatlah
diperlukan. peserta didik akan menjadi lebih mudah dalam menyerap berbagai
pelajaran disekolah dengan bantuan sarana prasarana yang ada. Apalagi saat ini
merupakan era ICT, dimana para peserta didik akan semakin mudah memahami
pelajaran-pelajaran dengan bantuan multimedia.
8.
Pengawasan Masyarakat Sekitar.
Pengawasan
dari masyarakat sekitar merupakan bentuk dukungan untuk menciptakan sekolah
yang baik. Jika sekolah tersebut berprestasi, ada baiknya masyarakat memberikan
apresiasi. Bagitu pula sebaliknya, apabila sekolah tersebut memiliki citra
negatif, ada baiknya masyarakat mengkritik kebijakan didalam sekolah tersebut
atau mengadukannya ke Depdikbud.
9.
Dukungan Finansial
Faktor
penting lainnya dalam menciptakan Manajemen Berbasis Sekolah yang baik adalah
dukungan finansial. Semakin kuat dukungan finansialnya, maka kemungkinan
terciptanya kemandirian sekolah akan semakin besar. Kita bisa mencontoh dari
(sebagian) sekolah-sekolah swasta dinegeri ini yang memiliki reputasi manajemen
baik dengan dukungan finansial yang kuat.
10. Peran
Pemerintah.
Peran
pemerintah sangat vital didalam memajukan pendidikan nasional, dalam hal ini
adalah dengan program School-Based
Management. Pemerintah diharapkan bisa membuat kebijakan-kebijakan
yang pro kepada pendidikan nasional seperti membuat kurikulum yang pro kepada
siswa, mengimplemetasikan kebijakan 20% APBN untuk pendidikan, dan
lain-lainnya.
Itulah
pembahasan mengenai sepuluh strategi untuk menciptakan Manajemen Berbasis Sekolah yang baik. Kita semua Warga Negara Indonesia tentu berharap agar kebijakan program
desentralisasi pendidikan ini bisa berjalan dengan baik dan benar, sehingga
tujuan mulia untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional bisa segera tercapai.
B.
Prinsip-Prinsip
MBS.
Teori yang digunakan MBS untuk mengelola
sekolah didasarkan pada empat prinsip, yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip
desentralisasi, prinsip sistempengelolaan mandiri, dan prinsip inisiatif sumber
daya manusia.
1. Prinsip
Ekuifinalitas (Principle of Equifinality).
Prinsip ini didasarkan pada teori manajemen
modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa cara yang berbeda-beda untuk
mencapai suatu tujuan. MBS menekankan fleksibilitas sehingga sekolah harus
dikelola oleh warga sekolah menurut kondisi mereka masing-masing. Karena
kompleksnya pekerjaan sekolah saat ini dan adanya perbedaan yang besar antara
sekolah yang satu dengan yang lain, misalnya perbedaan tingkat akademik siswa
dan situasi komunitasnya, sekolah tak dapat dijalankan dengan struktur yang
standar di seluruh kota, provinsi, apalagi Negara.
Pendidikan sebagai entisitas yang terbuka
terhadap berbagai pengaruh eksternal. Oleh karena itu, tidak menutup
kemungkinan bila sekolah akan mendapatkan berbagai masalah seperti institusi
pada umumnya. Pada zaman yang kondisi lingkungan semakin kompleks, maka sekolah
akan semakin mendapatkan tantangan permasalahan yang semakin kompleks pula.
Sekolah harus mampu memecahkan berbagai
permasalahan yang dihadapinya dengan cara yang paling tepat dan sesuai dengan
situasi dan kondisinya. Walaupun sekolah yang berbeda memilki masalah yang
sama, cara penanganannya akan berlainan antara sekolah yang satu dengan sekolah
yang lainnya.
2. Prinsip desantralisasi (Principle Of Decentralisasi).
Desentralisasi
adalah gejala yang penting dalam reformasi manajemen sekolah modern, prinsip
desantralisasi ini konsisten dengan prinsip ekuifinalitas. Prinsip desantralisasi
dilandasi oleh teori dasar bahwa pengolaan sekolah dan aktivitas pengajaran tak
dapat dielakkan dari kesulitan dan permasalahan. Pendidikan adalah masalah yang
rumit dan kompleks sehingga memerlukan desantralisasi dalam pelaksanaannya.
Prinsip ekuafinalitas yang dikemukakan sebelum mendorong adanya
desantralisasi kekuasaan dengan mempersilahkan sekolah memeliki ruang yang
lebih luas untuk bergerak, berkembang, dan bekerja menurut strategi-strategi
unik mereka untuk menjalani dan mengelola sekolahnya secara efektif.
Oleh
karena itu, sekolah diberikan kekuasaan dan tanggung jawab untuk memecahkan
masalahnya secara efektif dan sevepat mungkin ketika masalah itu muncul. Dengan
kata lain, tujuan prinsip desentralisasi adalah efesiensi dalam memecahkan masalah,
bukan menghindari masalah. Oleh karena itu, MBS harus mampu menemukan masalah,
memecahkannya tepat waktu dan memberikan sumbangsi yang lebih besar terhadap
efektifitas pengajaran dan pembelajaran. Tanpa adanya desentralisasi kewenangan
kepada sekolah itu sendiri maka sekolah tidak dapat memecahkan masalahnya
secara cepat, tepat, dan efesien.
3. Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri.
MBS
tidak mengingkari bahwa sekolah perlu mencapai tujuan-tujuan berdasarkan
sesuatu kebijakan yang telah ditetapkan, tetapi terdapat berbagai cara yang
berbeda-beda untuk mencapainya. MBS menyadari betapa pentingnya untuk
mempersilahkan sekolah menjadi sistem pengolaan secara mandiri di bawah
kebijakannya sendiri. Sekolah memiliki otonomi tertentu untuk mengembangkan
tujuan pengajaran strategi manajemen, sumber daya manusia dan sumber daya
lainnya, memecahkan masalah, dan mencapai tujuan berdasarkan kondisi mereka
masing-masing. Karena sekolah dikelola secara mandiri maka mereka memiliki
inisiatif dan tanggung jawab.
Prinsip
ini terkait dengan prinsip sebelumnya yaitu prinsip ekuafinalitas dan prinsip
desantralisasi. Ketika sekolah menghadapi masalah maka harus diselesaikan
dengan caranya sendiri, sekolah dapat menyelesaikan masalahnya bila telah
terjadi pelimpahan wewenang dari birokrasi di astasnya ketingkat sekolah.
Dengan adanya kewenangan di tingkat sekolah maka sekolah dapat melakukan sistem pengelolaan mandiri.
4. Prinsip Inisiatif Manusia (Principle Of Human Initiative).
Perspektif
sumber daya manusia menekankan bahwa orang adalah sumber daya berharga di dalam
organisasi sehingga poin utama manajemen adalah mengembangkan sumber daya
manusia di dalam sekolah untuk untuk berinisiatif. Berdasarkan perspektif ini
maka MBS bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga sekolah
agar dapat bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya. Oleh karena itu,
peningkatan kualitas pendidikan dapat di ukur dari perkembangan aspek sumber
daya manusianya.
Prinsip ini emngakui bahwa manusia bukanlah
sumber daya yang statis, emlainkan dinamis. Oleh karena itu, potensi sumber
daya manusia harus selalu digali, ditemukan, dan kemudina dikembangkan. Sekolah
dan lembaga pendidikan yang lebih luas tidak dapat lagi menggunakan istlah
staffing yang konotasinya hanya mengelola manusia sebagai barang yang statis.
Lemabga pendidikan harus menggunakan pendekatanhuman
resources development yang memiliki konotasi dinamis dan asset yang
amat penting dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.
C.
Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi MBS.
1.
Kepemimpinan dan Manjemen Sekolah yang baik.
MBS akan berhasil apabila ditopang oleh
profesionalisme kepala sekolah atau madrasah dalam memimpin dan mengelola
sekolah atau madarasah secara efektif dan efesien. Serta mampu menciptakan
iklim organisasi yang kondusif untuk proses belajar mengajar.
2.
Kondisi sosial, ekonomi dan apresiasi
masyarakat terhadap pendidikan.
Factor eksternal yang akan turut menetukan
keberhasilan MBS adalah kondisi tingkat pendidikan orang tua siswa dan
masyarakat, kemampuan dalam membiayai pendidikan, serta tingkat apresiasi dalam
mendorong anak untuk terus belajar.
3.
Dukungan Pemerintah.
Factor ini sangat membantu efektifitas
implementasi MBS terutama bagi sekolah atau madarasah yang kemampuan
orangtua/masyarakatnya relative belum siap memberikan kontribusi terhadap
penyelenggaraan pendidikan, alokasi dan pemerintah dan pemberian kewenangan
dalam pengelolaan sekolah menjadi penentu keberhasilan.
4.
Profesionalisme.
Factor ini sangat strategis dalam upaya
menentukan mutu dan kinerja sekolah, tanpa profesionalisme kepala sekolah,
guru, dan pengawas, akan sulit dicapai program MBS yang bermutu tinggi serta
prestasi siswa.
EmoticonEmoticon